Tampilkan postingan dengan label kajen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 November 2008

Guru Dalang Asing Meninggal

Harian Suara Merdeka, Kamis, 6 November 2008 : hal. P


Photobucket

Keterangan foto : Ki Oemartopo (kiri depan) memimpin murid-muridnya dari Amerika yang datang ke Wonogiri untuk diruwat. Sebelum menjalankan ritual tersebut mereka mengikuti prosesi kirap pusaka bulan Sura. Foto oleh : Bambang Pur/SM.


WONOGIRI : Dalang wayang kulit Ki H. Oemartopo, yang juga guru pedalangan warga asing, Rabu dini hari (5/11) meninggal dunia dalam usia 72 tahun. Ketua Persatuan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani) Wonogiri, Drs AK Djaelani mengatakan, Oemartopo merupakan sosok seniman dan budayawan Jawa. Dia memiliki basis sebagai guru Bahasa Jawa di Sekolah Pendidikan Guru (SPG).

“Dia sangat mumpuni dalam bahasa Jawa. Juga mendalami kebudayaan Jawa,” puji Djaelani. Oemartopo juga dikenal sebagai dalang wayang kulit pentas ringkas berbahasa Inggris. Semasa hidupnya dia berulangkali ke luar negeri untuk mengajar seni pedalangan di sejumlah perguruan tinggi di Amerika.

Bahkan di rumahnya, juga didirikan padepokan seni pembelajaran pedalangan wayang kulit, untuk menampung dan mengasuh warga dari manca negara yang eblajar mendalang. Murid-muridnya dari Amerika dan Prancis.

Minta diruwat. Pada 1990an, murid-murid Oemartopo dari Amerika ramai-ramai datang ke rumahnya, disambut resmi oleh Bupati Drs. Oemarsono (adik Oemartopo). Mereka disuguhi reog dan tayub di pendapa dan halaman pendapa, dan sekaligus diajak menari. Uniknya, para tamu dari manca negara itu juga minta diruwat.

Oemartopo juga pernah tampil menjadi pengrajin gamelan khusus ekspor. Abdi dalem Keraton Surakarta Kanjeng Raden Arya (KRA) Drs. Pranoto Adiningrat, MM, budayawan peraih bintang budaya, menilai, Oemartopo juga mumpuni dalam soal tosan aji. (Bambang Pur).



pdr

Bapak Oemartopo Tutup Usia, 72 Tahun

Cerutu dan gergaji. Bulan Maret 2008 Bapak Oemartopo masih mendalang di Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta. “Selama dua jam penuh, berbahasa Inggris,” ujar beliau bersemangat. Saat itu, 19 Agustus 2008, beliau saya temui untuk meminta pendapat beliau sebagai sesepuh Kampung Kajen dan pejuang 1945 terkait renungan HUT Kemerdekaan RI ke 63. Walau mengaku dalam keadaan sakit, ada gangguan syaraf di punggung, beliau lancar dalam bercerita.

Tergoda untuk mengetahui bagaimana humor dalam wayang bisa diterima oleh penonton wayang yang orang Barat, saya telah tanyakan hal itu kepada Pak Oemar. Beliau punya cerita ilustrasi yang menarik. Antara lain tentang sikap “kurang ajar” para punokawan dalam memperlakukan para raksasa. Misalnya ketika Petruk mengelus-elus gigi-gigi para raksasa. “Like a saw,” cetus Petruk. Seperti gergaji. Sementara Gareng ikut menimpali ketika ia justru memegang-megang hidung si Petruk. “Like a cigar.” Seperti cerutu, demikian kata Gareng.

Audiens pun tergelak. Tetapi yang paling lucu mungkin kisah tentang Sengkuni, maha patih yang eksentrik dan licik itu. Konon setelah pasukan kerajaannya menang perang di kerajaan Wirata, dan setelah menempuh jarak ribuan kilometer untuk pulang, ia mengadu ke Resi Durna. Sengkuni mengeluh, “I left my cigarette in Wirata.” Rokok klobot, rokok tradisional milik Sengkuni yang dibungkus dengan kulit buah jagung itu ketinggalan di Wirata. Dan ia sangat menyesalinya.

Dalam obrolan itu saya sempat merekam secara video pendapat beliau mengenai bagaimana warga Kajen, juga anak bangsa, dalam mengisi kemerdekaan. Seperti isi pidato beliau di acara renungan HUT RI ke 62 (2007) yang dilangsungkan di halaman rumah saya, sebagai pejuang beliau sangat geram akan perilaku para koruptor. “Mereka itu yang berpotensi menenggelamkan negeri ini ke jurang kehancuran,” tegas Pak Oemartopo.

Terkait dengan sosok beliau sebagai budayawan, dalang dan etnomusikolog yang mendunia, beliau menceritakan hal yang menarik. Bila bisa sembuh total, beliau akan mengajak saya untuk menemaninya mengikuti acara pertemuan budaya yang diadakan tahunan di Bali, yaitu World Music Workshop in Bali.Beliau juga menyebut nama Dr. Robert E. Brown, direktur kegiatan budaya ini. “Akomodasi akan ditanggung oleh panitia,” tutur beliau. Terima kasih, Pak Oemar.


Selamat jalan, Pak Oemar. Penutur lelucon wayang di atas, kini telah menghadap Sang Khalik Bapak Oemartopo meninggal dunia tanggal 4 November 2008 Jam 01.30 di Rumah Sakit Umum Dr. Muwardi, Solo. Tutup usia mencapai 72 tahun. Jenazah dimakamkan di Pemakaman Umum Kajen Giripurwo, Wonogiri, Rabu, 5 November 2008.

Wonogiri merasa kehilangan salah satu warga terhormat dan duta budayanya yang terbaik. Kabar duka ini pun segera menyebar, dan sejak pagi rumah beliau telah dikunjungi ratusan takziah. Jumlah itu semakin bertambah di siang harinya. Belasan karangan bunga, dari Bupati Wonogiri, fraksi Partai Golkar di DPRD, kalangan pengusaha sampai sekolah, menunjukkan luasnya lingkup pergaulan beliau. Liputan fotonya sebagai berikut :

Photobucket

Wakil keluarga. Tokoh budaya dan Ketua Permadani Wonogiri, Drs. AK Djaelani, didampingi menantu Moch Subhan Kenedi dan putra, Puguh Aldoko Putro, menyambut para takziah. Selaku wakil dari keluarga beliau mengucapkan banyak terima kasih atas empati masyarakat Wonogiri, juga memohonkan maaf bagi semua kesalahan almarhum ketika berinteraksi dengan masyarakat di kala hidupnya.

Ikut memberikan sambutan dan penghiburan bagi yang berduka adalah Camat Wonogiri, Bapak Drs. Sriyono, MM. Sedang pembacaan doa dilaksanakan oleh Bapak Mohammmad Soepandi, BA.

Photobucket

Bendera duka. Bapak H. Oemartopo lahir di Sragen, 3 Desember 1936. Beliau menjabat sebagai guru SPG di Wonogiri sejak tahun 1961 sampai 1990. Mengajar kesenian di Amerika Serikat selama 12 tahun dan di Hongaria, 2 tahun. Dalam daftar riwayat hidup yang dibacakan oleh pambiwara, RMT Ki Lilik Guna Hanata Diprana, disebutkan bahwa jabatan pengabdian beliau yang terakhir adalah Ketua RT 01/RW XI Lingkungan Kajen, Giripurwo, Wonogiri, sampai akhir hayat.

Kajen memang kehilangan tokoh panutan. Rasa kehilangan itu ditunjukkan dengan barisan takziah yang memanjang, mengikuti gerak ambulans yang mengantar almarhum ke peristirahatan terakhir di Pemakaman Umum Kampung Kajen.

Photobucket

Gerbang alam fana. Peti jenasah memasuki gerbang Pemakaman Umum Kampung Kajen. Jasad Bapak H. Oemartopo bersiap beristirahat dalam kedamaian, di sisi Tuhan. Beliau memang telah pergi jauh, sudah tak lagi ada di antara kita di dunia yang fana ini. Yang pasti, kebaikannya, akan abadi dalam kenangan mereka yang beliau tinggalkan. Sebuah pesan singkat ini menarik untuk kita simak dan camkan : Do u know abt d things which live after death? Heart-10 mins, brain-10 mins, eyes-31 mins, legs-4 hrs, skin-5 days, bones-30 days, LOVE – FOREVER.

Photobucket

Kesedihan dan keikhlasan. Kehilangan orang tercinta selalu mengguratkan kesedihan mendalam. Barangkali juga hikmah. Penyair AS, Ezra Pound (1885–1972) melukiskan duka itu, O woe, woe/People are born and die/We also shall be dead pretty soon/Therefore let us act as if we were dead already. Mungkin isi puisi itu sama maknanya dengan ujaran, “carilah kehidupan seperti kau akan hidup selamanya, tetapi carilah pahala seperti esok kau akan mati.”

Keluarga besar Bapak H. Oemartopo nampak memaknai ajaran luhur itu. Kesedihan memang tidak bisa disembunyikan. Termasuk di wajah putrinya yang anggun, Ut Pholowati, yang mudah mengingatkan sosok Ratna Doemilah, peragawati nasional era akhir 70-an. Yang pasti tidak ada isak tangis darinya. Juga dari keluarga lainnya. Karena mereka tahu bahwa suami, ayah dan eyang tercinta mereka kini telah memperoleh tempat yang layak disisiNya.

Photobucket

Doa selalu beliau nantikan. Rabu, 5 November 2008, sekitar jam 15.00 WIB, upacara pemakaman Bapak H. Oemartopo telah berlangsung secara paripurna. Ikut menjadi saksi adalah adik beliau, Bapak Oemarsono, mantan Bupati Wonogiri dan Gubernur Lampung. Dipimpin Bapak Slamet Sadono, para takziah melantunkan doa kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, agar almarhum kini senantiasa damai dan tentram di haribaanNya.

Memang hanya doa kini yang beliau harapkan dari keluarga, untuk mampu menautkan bahwa cinta beliau kepada sesamanya akan senantiasa hidup dalam hari-hari kehidupan kita selanjutnya.

Sementara untuk keluarga besar H. Oemartopo, meliputi Ibu Sunarni, Ibu Sri Suyamti, Ut Pholowati/Moch Subhan Kenedi, Puguh Aldoko Putro/Rita Subekti, Aldoko Dwi Rodo Punggung, serta para cucu yaitu Kentari, Ibel, Rehan, Rara, semoga senantiasa diberi keteguhan iman dalam mengantar Bapak Oemartopo menghadap Sang Khalik.

Selamat jalan Pak Oemar.


(Bambang Haryanto)

kkk

Tamu dari Perancis : Jeff Francois Coctaz

Si Paimin dari Perancis. Blog ini ditulis dari kampung Kajen, Giripurwo, Wonogiri. Kalau Anda ingin tahu tentang Kajen, mohon maaf, silakan Anda pergi dahulu ke Paris, kota cahaya, yang ibukota Perancis.

Kunjungilah kantor kedutaan besar Republik Indonesia. Di sana silakan temui salah seorang pegawai lokalnya. Ia bernama : Jeff Francois Coctaz. Kepada mantan anggota angkatan laut Perancis dan lulusan antropologi ini, sapalah ia dengan bahasa Jawa. Atau bila ingin cepat lebih akrab, panggil saja dengan sebutan Mas Paimin.

Lalu tanyakanlah hal seputar Kajen kepadanya. Tanyakan tentang wayang, karena ia seorang dalang. Tanyakan apa ia masih ingat nama Bapak Oemartopo. Nama mBak Nur. Bapak Suroto yang Kaling Kajen. Ibu Sumarni Mulyarto. Mas Mulyadi. Juga masing-masing nama anak keluarga almarhum Kastanto Hendrowiharso.

Karena pada tahun 70-an Jeff Coctaz, pernah agak lama tinggal di rumah keluarga Kastanto sebagai sahabat Bari Hendriatmo, salah satu anak keluarga ini. Sejak itu Jeff ibarat sebagai warga Kajen yang kini sedang mengembara di Perancis.


Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Warga Kajen. Nampak Jeff bersama anak-anak sanggar melukis anak-anak Brigade Kelompok Kecil (BKK) Wonogiri. Di ujung kanan, bertopi, adalah pendiri BKK, Mayor Haristanto.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Saksi sejarah. Jeff bersama Bari sedang menyalami warga Trah Martowirono yang lagi berbahagia, yaitu Mas Untung Suripno dan Ibu Eri pada hari pengantin mereka di Prambanan, Yogyakarta. Kejadian itu sudah berlangsung 25 tahun lalu, karena di tahun 2007 yang lalu Mas Untung-mBak Eri baru saja merayakan pesta perak perkawinannya.


Berkunjung ke Kajen. Walau pun tidak intensif, saya (Bambang Haryanto) masih bisa kontak dengan Jeff melalui email. Hal itu berlangsung sejak tahun 2003, saat ia mengunjungi Kajen. Sore itu banyak sekali warga Kajen, juga anak-anak kecil, merubung untuk menemui saudara bule mereka yang lama tidak ketemu.

Hari Jumat sore, 28 Maret 2008, ia muncul lagi di Kajen. Ia ditemani Mas Widodo Wilis, dalang dari Ngadirojo. Jeff cerita sudah mengontak adik-adik saya, bahkan bisa ketemu dengan Broto Happy W. (wartawan BOLA) di Bogor. Juga kontak dengan Bari di Jember dan Mayor Haristanto di Solo. Sebelumnya ia sudah sampai di Sulawesi. “Aku balik ke Perancis, 4 April 2008,” katanya.

Sore itu, Jeff yang nampak necis (“koyo diplomat,” kataku dan ia tertawa), sempat menemui mBak Marni Mulyarto untuk menanyakan Ganefo (putranya) yang kini bekerja di Kendari. Juga bersilaturahmi dengan Bapak/Ibu Sunarso, depan rumahku. Tak lupa glenyengan menyalami anak-anak kecil Kajen. Ketika ia berjalan diapit temen cewek Perancis dan istrinya Mas Widodo ia bilang, “koyo Janoko.”

Saya rada iri dan kagum sama dia. Jeff ini dalam bahasa Jawa disebut grapyak, murah hati dan suka ngobrol, bertegur sapa. Banyak temannya. Wong Perancis tetapi guyonannya, jiwanya, sudah sebagai wong Jowo. Sore itu ia juga menemui budayawan dan tokoh pedalangan, Bapak Oemartopo.

Sayang, saat itu kamera digitalku lagi kehabisan bateri. Saya berharap Jeff bisa mampir lagi di Wonogiri, katanya mau nonton wayang, sehingga aku bisa memotretnya. Tak kesampaian. Ia kirim SMS :

“Mas Bambang, maaf baru baca sms anda. Saking banyak sms saya sdh tidak tahu lagi. Sya sdh di bandara Yogya utk menuju Surabaya. Waktunya terlalu cepat berlalu. Terima kasih dan tolong sampaikan salam kepada orang yg saya tidak sempat ketemu. Jeff.” (Senin, 31 Maret 2008 : 12.17.23).

Au Revoir, Jeff !


tmw

H. Oemartopo : Pesan Kemerdekaan RI 2008

Merdeka !

Sesepuh kampung Kajen, sekaligus Ketua RT 01/RW 11 Kajen, Bapak H. Oemartopo nampak bersemangat menyambut acara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 63 di kampung Kajen.

Ditemui oleh Bambang Haryanto, blogger Kajen, beliau memberikan banyak pesan. Walau mengaku dalam keadaan kurang sehat, beliau tetap bersemangat layaknya pejuang di masa perjuangan.

Usianya yang melampui angka 70 tahun, pengalamannya sebagai budayawan, dalang dan etnomusikolog yang kenyang dengan perjalanan mengelilingi dunia, mampu memberikan kepada kita wawasan yang berharga. Terutama bagi warga Kajen dan warga Indonesia dalam mengarungi masa depan.

Dalam kesempatan bersejarah itu, beliau menitip pesan kepada warga Kajen untuk tabah dan tawakal dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Serta tetap berjuang mengisi kemerdekaan. Bukan dengan perang lagi, tetapi dengan bekerja dan berkarya.

Seperti isi pesannya tahun lalu, beliau tetap konsisten bahwa bangsa dan negara ini harus diselamatkan dari ancaman para koruptor. Mereka-merekalah itu yang berpotensi menenggelamkan negara dan bangsa Indonesia. Diharapkan bangsanya semakin cerdas dan berani memerangi penyakit bangsa yang kronis ini. Saya mendukung diberlakukannya hukuman mati bagi koruptor, tegasnya. Generasi muda harus menjadi bagian untuk memerangi ancaman besar satu ini.

Merdeka !

Nasionalisme Warga Kajen, Warga Kampungku

Ini Nasionalismeku, Bung ! Apa wujud nasionalisme Anda ? Lebih memilih konsumsi produk makanan tradisional, dibanding makanan asal luar negeri? Mendirikan lembaga pengajaran komputer secara gratis sehingga anak-anak Indonesia di lingkungannya bisa melek teknologi? Atau, menjelang 17 Agustus sengaja memasang bendera di stang spion motor dan memekikkan kata “Merdeka !” untuk pengendara motor lain yang memajang bendera Merah Putih pula ?

Itulah sebagian dari 62 pendapat pembaca Kompas dalam mengeskpresikan “Ini nasionalismeku !” yang dimuat dalam edisi16 Agustus 2007. Bagi warga RT 01/RW XI Lingkungan Kajen Giripurwo, Wonogiri, ekspresi nasionalisme itu kiranya bisa direntang lebih panjang dan memunculkan gambaran warna-warni.

Antara lain : Bapak Ketua RT, Haji Oemartopo, budayawan terkenal yang kenyang njajah desa milang kori dengan mendalang di kota-kota di Amerika Serikat, lalu masa revolusi tergabung resimen Sunan Lawu di daerah Sragen dan ikut menyerang kedudukan pasukan Belanda di pabrik Mojo, malam 16 Agustus 2007 nampak menyanyikan lagu “Halo-Halo Bandung” secara bersemangat. Semula beliau hendak menyayi sendiri, tetapi kemudian saya usulkan untuk ditemani anak-anak kampung Kajen. Beliau setuju.

Dengan ditemani puluhan anak-anak kecil kampung kami, kampung Kajen, Pak Oemar kompak melakukan koor dengan heroik bersama seluruh hadirin. Inilah sepotong adegan ekspresi “Ini Nasionalismeku !” dari peristiwa Malam Tirakatan Memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-62 di kampung Kajen.


Anda Ingin Mengenal Kajen ? Betul ? Pergilah dahulu ke Paris, kota cahaya, yang ibukota Perancis. Kunjungilah kantor kedutaan besar Republik Indonesia, dan temuilah salah seorang pegawai lokalnya. Ia bernama : Jeff Francois Coctaz. Kepada mantan anggota angkatan laut dan lulusan antropologi ini, sapalah dengan bahasa Jawa.

Atau bila ingin cepat lebih akrab, panggil saja dengan sebutan Mas Paimin. Lalu tanyakanlah hal seputar Kajen kepadanya. Tanyakan apa ia masih ingat nama Bapak Oemartopo. Nama mBak Nur. Bapak Suroto yang Kaling Kajen. Juga masing-masing nama anak keluarga almarhum Kastanto Hendrowiharso. Tahun 70-an Jeff Coctaz, pernah agak lama tinggal di rumah keluarga Kastanto sebagai sahabat Barry Hendriatmo, salah satu anak keluarga ini. Sejak itu Jeff ibarat sebagai warga Kajen yang kini sedang "mengembara" jauh di Perancis.

Memang di halaman rumah keluarga almarhum Kastanto inilah acara malam tirakatan 17 Agustus-an tahun 2007 digelar oleh warga Kajen. Secara lesehan. Di sisi barat halaman berukuran 6 x 12 meter ini dipakai sebagai panggung dengan dekor tulisan yang dirancang oleh Jumplong dari Percetakan JDI, juga warga Kajen. Lengkung-lengkung kain warna merah-putih di lisplang rumah menjadi aksen yang kental dalam menggugah semangat kebangsaan.

Penjor atau umbul-umbul warna-warni siangnya telah dipasang oleh Mas Parno. Ia punya sebutan angker, yaitu si Jack of All Trades alias McGyver-nya Kajen. Karena suami mBak Tien dan pria peramah asal Cepogo Boyolali yang sudah ajur-ajer sebagai wong Kajen sejak 1974 ini memang memiliki keperampilan serba bisa dalam krida pertukangan. Tetapi krida sebagai tukang santet dan tukang tenung tidak termasuk dalam keterampilannya.

Di pinggiran tempat duduk para pengunjung malam itu dikepung deretan tanaman adenium yang sedang mekar berbunga, koleksi Ibu Iwin M. Taufik, sang tuan rumah. Fasilitas pengeras suara dioperatori oleh Mas Giyadi, warga setempat. Pembawa acara adalah Suharto, tokoh karismatis dan flamboyan dengan sebutan gaul sebagai fish hunter yang sangat terkenal di Pasar Wonogiri.

Memang ia tidak atau belum memiliki kapal pukat harimau atau kesana-kemari selalu membawa harpoon seperti orang Eskimo, tetapi label pemburu ikan yang tertera dalam mobilnya menunjukkan siapa dia. Yaitu entrepreneur kelas kakap urusan kakap, walau sering yang ia urusi untuk bisnis sehari-harinya kebanyakan tongkol, gereh dan juga bandeng. Di Kajen ia memiliki jabatan resmi : Ketua K3.

Kakap, Kerapu dan Kepiting ?

Oh, bukan. Menurut Haryono, Sekretaris RT 01/RW XI, K3 merupakan kepanjangan dari kebersihan, ketertiban dan keamanan. Tema serupa K3 itu ternyata juga menjadi landasan dasar bagi penyelenggaraan beragam kegiatan merayakan hari ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-62 di Kampung Kajen.


Meretas Tesis Clifford Geertz. Hal di atas diungkapkan oleh tokoh masyarakat yang terpandang di Kampung Kajen, Bapak H. Wiloso, BA, yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia HUT RI Ke-62 Lingkungan Kajen. Bahkan beliau memiliki cerita menarik yang selama ini seolah terpendam di bawah karpet. “Kampung Kajen kita ini, disadari atau tidak, penduduknya selama ini telah terbelah oleh hal-hal yang sebenarnya tidak perlu,” kata beliau kepada “wartawan” blog Kajenku, Bambang Haryanto (20/8/2007).

Sekadar gambaran : lingkungan Kajen ini terdiri atas 6 RT. Ada 3 RT di bagian barat dan sisanya di bagian timur. Batas demarkasi yang “membelah” keduanya adalah Jl. Ahmad Dahlan yang merupakan jalan besar untuk bus jurusan Solo-Pracimantoro melintas. Pembelahan antar keduanya sepertinya sesuai dengan tesisnya antropolog terkenal Clifford Geertz.

Kita lihat, untuk Kajen Kulon (Barat) populasinya didominasi oleh kaum santri, tetapi di Kajen Wetan (Timur) oleh kaum abangan. Kajen Barat adalah masyarakat golongan elit, para pegawai negeri, sementara di Kajen Timur kebanyakan kalangan buruh tani. Kalau Pemilu, maka yang menang di Kajen Barat adalah PAN dan di Kajen Timur adalah PDIP atau Golkar. Ada pula perbedaan lain dari segi profil demografi penduduknya : di Kajen Barat relatif sedikit warganya yang berusia anak-anak dan remaja, sementara di Kajen Timur penduduk usia golongan ini berjubelan.

“Kajen adalah Kajen ! Nasionalisme untuk Kajen yang satu,” demikian tegas Pak Loso. Beliau menginginkan adanya ukhuwah alias persaudaraan untuk sesama warga Kajen tanpa adanya pembedaan-pembedaan yang tidak prinsip. Sosok beliau memang dapat dijadikan sebagai contoh. Ia berasal dari Kajen Kulon, tetapi karena luwes, ia pun bisa dengan enak berbicara dan bergaul dengan warga Kajen Wetan. Untuk mengikis kendala di atas, ia optimis akan teratasi oleh generasi-generasi yang akan datang. Sekadar contoh, sudah banyak anak-anak Kajen Timur yang bersekolah, misalnya TK Aisyiyah sampai SD dan juga SMA atau SMK Muhammadiyah yang terletak di Kajen Barat. “Tahun depan, sebaiknya lomba untuk anak-anak bisa memakai halaman sekolah-sekolah itu,” usul Bapak Wiloso. “Memanglah, menyemaikan kebaikan itu butuh sabar, karena untuk memetik buahnya memang dibutuhkan waktu,” tutur beliau dengan bijak.


Kajen Semarak ! Kebijakan itulah yang memandu panitia dalam memilih kegiatan lomba. “Jangan memilih lomba atau pertandingan yang mampu memicu tindakan kekerasan,” demikian angger-angger atau pedoman yang beliau gariskan. Pembiayaannya jangan memberatkan warga di tengah perekonomian yang masih sulit. Jangan sampai ada resiko cedera.

Awal Agustus 2007, pelbagai lomba mulai diselenggarakan. Baik untuk anak-anak, kaum remaja, kaum ibu dan juga kaum bapak. Sebagian besar diselenggarakan di venue utama, yaitu lapangan voli mBelik (Kajen Timur, Rt 01/XI), yang hanya beberapa belas meter dari tepian Bengawan Solo yang airnya di bulan Agustus mengalir tenang.


Perlombaan Anak-Anak (TK-SD).

Dengan arahan koordinasi Fajar Hartanto (Rt 3/RW X), tanggal 5 Agustus 2007, dibuka dengan lomba pukul air perorangan. Adik-adik kita yang bersukaria dan berbasah-basah ini akhirnya menelurkan Juara I – Bestin (1/XI), Juara II – Dila (2/X) dan Juara III – Diki (2/X).

Mayasari (bukan nama bis di Jakarta) dari Rt 02/RW XI kemudian memimpin lomba unik : memasukkan pensil ke dalam botol. Kembali kita sebut nama Bestin (1/XI) karena ia tampil sebagai juaranya, disusul Krisna (1/XI) dan Vian (1/XI) sebagai juara ketiga. Selanjutnya ajang lomba menjadi arena gelak tawa akibat kemunculan beragam badut dengan cemong-cemong warna hitam di wajah mereka. Dengan koordinasi Fandi (Rt 3/XI) belasan anak-anak mengadu kekuatan giginya untuk mengambil koin dari buah melon. Sokurlah buahnya melon, bayangkan bila yang dipilih panitia adalah buah durian. Bisa wajah-wajah mereka godres getih ya ? Ah, kasihan. Inilah juaranya : Krisna (1/XI), Ninis (3/X) dan disusul Nanda (1/XI).

Masih dalam suasana hari yang cerah di Kajen, Minggu sore itu diramaikan dengan anak-anak yang berlarian, sambil mengundang deg-degan para orang tua mereka. Mereka sedang ikut lomba lari kelereng, walau bukan ke lereng bukit. Tetapi yang dimaksud adalah biji kelereng atau sebutan lainnya adalah gundu, yang ditaruh di dalam sendok yang tergigit di mulut-mulut mereka. Lomba seru di bawah koordinator Dito (1/X) kembali memunculkan nama Bestin (1/XI) sebagai juara pertama. Ia melakukan hattrick setelah memenangkan lomba pukul air, memasukkan pensil ke botol dan kemudian lari kelereng. Juara keduanya, Angga (1/XI) dan disusul Yogya (2/X).

Lomba makan kerupuk, yang bila diartikan secara harafiah entah berapa tombong kerupuk yang bakal habis diserbu oleh puluhan anak-anak Kajen, akhirnya memunculkan lagi nama Ninis (3/X) sebagai juara pertama, disusul Arin (1/XI) dan Galih (2/XI) sebagai juara ketiga. Kriuk, kriuk, kriuk.




kkk